Contoh tulisan Pentigraf
Kegiatan rutin itu diingat selalu. Sore hari menyiapkan bahan untuk masak di pagi
hari yang penting ada bekal untuk di bawa suami dan anak-ananya. Menyiapkan bekal suatu
yang sangat berarti. Rasanya tenang kalau sudah memberikan bekal makan kepada anak dan
suaminya. Apalagi suaminya lagi semangt-semangatnya bekerja. Berangkat pagi-pagi sekali
dan pulang sampai sore hari. Bahkan jemput anakpun sampai gak sempat, akhirnya Intanlah
yang sering jemput anaknya.
“Sepagi ini ayah sudah mau berangkat ke kantor?”tanya Intan temanku pada
menyiapkan sarapan serta bekal untuk ke kantor. Suatu hari suaminya sangat tergesa-gesa
bahkan pamitpun sambil berjalan menuju garasi akhirnya berangkat tanpa Intan
mengantarkan ke depan. Intan coba kejar keluar ternyata suaminya sudah berangkat. Intan
kembali masuk ke rumah betapa kagetnya melihat bekal yang sudah disiapkan ternyata tidak
kebawa ke kantor suaminya. Dalam hati Intan berpikir apa diantar ya….... tapi akhirnya Intan
memutuskan gak usah biar suaminya sesekali jajan di kantin. Tapi sungguh kecewa hati Intan
dan merasa bersalah karena suaminya yang dia anggap rajin dan semangat bekerja demi
untuk dia dan anak-anaknya kok sampai tidak dibawakan bekal.
Dalam sebuah pertemuan Intan bertemu bu Ina teman suaminya se kantor. Bu Ina
bertanya pada Intan kalau suaminya kok sekarang rajin banget. Sambil tersenyum Intan
menjawab kalau memang suaminya sedang banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Namun apa yang disampaikan bu Ina sungguh seperti petir yang sedang menyambar hanya
dengan pertanyaan, “Apakah benar Pak Anton lagi banyak pekerjaan ?”
BETI TRIWAHYUNI
SMAN 2 PLAYEN
SEBUAH PERTANYAAN
Kegiatan rutin itu diingat selalu. Sore hari menyiapkan bahan untuk masak di pagi
hari yang penting ada bekal untuk di bawa suami dan anak-ananya. Menyiapkan bekal suatu
yang sangat berarti. Rasanya tenang kalau sudah memberikan bekal makan kepada anak dan
suaminya. Apalagi suaminya lagi semangt-semangatnya bekerja. Berangkat pagi-pagi sekali
dan pulang sampai sore hari. Bahkan jemput anakpun sampai gak sempat, akhirnya Intanlah
yang sering jemput anaknya.
“Sepagi ini ayah sudah mau berangkat ke kantor?”tanya Intan temanku pada
suaminya. Intan heran dan bertanya saat suaminya pertama berangkat ke kantor pagi-pagi
sekali. Sejak itu suaminya selalu berangkat pagi ke kantor. Pulangnya pun sampai sore hari.
Semangat suaminya itu Intan imbangi dengan usaha untuk bangun lebih pagi danmenyiapkan sarapan serta bekal untuk ke kantor. Suatu hari suaminya sangat tergesa-gesa
bahkan pamitpun sambil berjalan menuju garasi akhirnya berangkat tanpa Intan
mengantarkan ke depan. Intan coba kejar keluar ternyata suaminya sudah berangkat. Intan
kembali masuk ke rumah betapa kagetnya melihat bekal yang sudah disiapkan ternyata tidak
kebawa ke kantor suaminya. Dalam hati Intan berpikir apa diantar ya….... tapi akhirnya Intan
memutuskan gak usah biar suaminya sesekali jajan di kantin. Tapi sungguh kecewa hati Intan
dan merasa bersalah karena suaminya yang dia anggap rajin dan semangat bekerja demi
untuk dia dan anak-anaknya kok sampai tidak dibawakan bekal.
Dalam sebuah pertemuan Intan bertemu bu Ina teman suaminya se kantor. Bu Ina
bertanya pada Intan kalau suaminya kok sekarang rajin banget. Sambil tersenyum Intan
menjawab kalau memang suaminya sedang banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Namun apa yang disampaikan bu Ina sungguh seperti petir yang sedang menyambar hanya
dengan pertanyaan, “Apakah benar Pak Anton lagi banyak pekerjaan ?”
BETI TRIWAHYUNI
SMAN 2 PLAYEN
Comments
Post a Comment